BERBAGI PENGALAMAN DI PUSAT PENDIDIKAN KONSERVASI ALAM BODOGOL (PPKAB)

Salam Konservasi …….

Anda tahu Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol?Anda pernah kesana?Anda tahu apa saja yang terdapat disana?

Mungkin anda perlu menyimak Tim Kelompok Pemerhati Mamalia ”Tarsius” bersama Kelompok Pemerhati Herpetofauna dan Kelompok Fotografi Konservasi melakukan “Studi Ekologi Herpetofauna, Mamalia dan Teknik Fotografi Alam di Bodogol” pada tanggal 18-20 Maret 2005.

Pusat Pendidikan konservasi alam Bodogol (PPKAB) ditujukan untuk kegiatan pendidikan lingkungan atau konservasi dan ekowisata yang pengelolaanya dilakukan melalui kerjasama Balai TN.Gede pangrango, Conservation International Indonesia, dan Yayasan Alam Mitra Indonesia

PPKAB didirikan pada tahun 1997. Terdapat Stasiun Penelitian Bodogol (SPB) yang menjadi lokasi pengamatan. Lokasi yang cukup strategis karena menjadi daerah terkonsentrasinya satwa  dekat track atau jalur satwaliar, misalnya jalur macan. SPB dilengkapi dengan fasilitas antara lain 4 kamar tamu, dapur, kamar mandi.

Aksesbilitas :

Ciawi – Lido= ± 15 km (± 30 menit).

Lido  –  PPKAB = ± 7,1 km (± 20 menit)

Kondisi Umum :

Ketinggian: ± 800 mdpl

Suhu : Minimal 18 ° C, Maksimal 32 ° C

Curah Hujan : ± 3100 mm/tahun

Fauna: Owa Jawa, Elang Jawa,  Surili, Macan Tutul,  Lutung betung, Macaca,  Katak, Kukang, Bajing,     Jelarang, dsb.

Flora: Rasamala, Puspa, Anggrek, Bambu, Afrika, Kiara, Amorphopalus, Rafflesia, Tetrastigma, palaquium, jenis   tumbuhan obat,dsb.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan disana adalah :

Pengamatan primata : mengamati tingkah laku primata dan aktivitas hariannya. Di hari pertama pengamatan, pada pukul 16.35 WIB Kelompok Pemerhati Mamalia menemukan Lutung betung (Trachypithecus auratus). Secara umum, tubuhnya berambut, berwarna hitan dengan muka abu-abu kehitaman. Lutung budeng memiliki ekor yang panjang, Ada sedikit jambul pada mahkotanya. Tim menemukan enam ekor lutung budeng sedang berada pada pohon Teureup (Arthocarpus sp) dimana buahnya merupakan makanannya.

Tak lama berselang, pada pukul 16.56 WIB tim menemukan Bajing (Callosciurus notatus) yang sudah tidak asing bagi lokasi SPB karena tak jauh dari SPB vegetasi banyak ditumbuhi pohon Afrika (Maesopsis eminiii) yang buahnya merupakan makanan lezat bagi Bajing. Ciri-ciri bajing ini adalah tubuh bagian atas berbintik halus kecoklatan. Garis sisi bungalan dan hitam. Bagian bawah bervariasi dan gelap sampai terang, tetapi selalu kemerahan atau jingga tidak pernah abu-abu. Tim menemukan belasan bajing yang melompat-lompat mencari buah afrika kesukaannya.

Dihari kedua pengamatan tim menuju canopy trail yang merupakan salah satu daya tarik PPKAB dan merupakan tempat para satwa primata biasanya melakukan aktivitas paginya untuk mencari makan. Setengah perjalanan, tepat pukul 06.15 WIB tim disambut oleh suara Owa Jawa (Hylobates moloch) yang merupakan satwa endemik Jawa Suara keras yang diperdengarkan merupakan bentuk teritori yang dipertahankan dari musuh baik untuk mencari makan maupun daerah kekuasaan. Owa Jawa salah satu primata yang tak berekor dengan rambut berwarna abu-abu keperakan dan panjang. Warna putih disekitar wajah yaitu pada alis mata dan pipi Tim menemukan tiga ekor Owa Jawa (berkelompok) di pohon Kiara. Berpindah tempat dengan berayun dari satu dahan pohon yang lentur kesatu dahan yang lainnya. Sesekali melihat kearah kami, wajah kusutnya seakan ingin menyampaikan suatu pesan kepada kami ”Selamatkan kami”. Satwa yang populasinya cenderung menurun ini merupakan satu-satunya di Jawa dan langka yang eksistensinya sangat tergantung pada kondisi habitat yang semakin lama mengalami degradasi. Satu sisi pemerintah ingin menyelamatkan satwa ini dari kepunahan namun disisi lain pengrusakan habitat oleh para cukong kayu semakin membludak. Ironis memang tapi itu kenyataan.

Pengamatan dilanjutkan, tim menemukan Jelarang hitam (Rattufa bicolor). Ciri-ciri satwa ini adalah  tubuh bagian atas hitam atau coklat gelap, kaki depan dan paha gelap. Dada dan dagu putih. Tim menemukan satwa ini sedang  memakan buah Afrika yang merupakan makanan terfavorit satwa di sana

Dihari yang sama pengamatan, pukul 08.15 tim menemukan Surili (Presbytis comata) dengan ciri-ciri tubuh bagian atas abu-abu, bagian bawah putih, jambul gelap jelas diatas kepala dan bagian atas ekor gelap bagian bawah terang. Surili tersebut sedang gelisah dan ketakutan akan sesuatu, berlari tanpa menghiraukan tim yang sedang mengamatinya dari kejauhan. Ada Panthera pardus mengikutinya !!  seraya berucap pelan kepada tim. Tentu saja dengan perkataan guide (Polisi Hutan) kepada anggota tim membuat cemas dan bergidik jikalau saja Panthera tersebut menghadang tim. Mungkin ceritanya lain lagi????

Mengenai Panthera pardus, mamalia karnivora ini merupakan satwa langka di PPKAB yang menurut sumber tahun 1996 populasinya hanya tinggal 20 ekor tersebar di beberapa lokasi pengamatan. Wajar saja, untuk pengamatan dibutuhkan waktu yang lama, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Untuk memudahkan pengamatan maka digunakan camera trap di jalur track yang biasa digunakan satwa untuk lintasannya. Camera trap yang digunakan merupakan salah satu camera yang mendeteksi satwa dengan sensor panas. Tak heran memang satwa yang melintas terekam oleh kamera trap ini antara lain Macan Tutul (Panthera pardus), Musang (Paradoxurus hermaproditus) dan Kucing Hutan (Felis bengalensis). Pada saat malam pengamatan, sekitar 18.20 WIB, Dani, Lugina diselimuti rasa kecemasan yang amat sangat,” Saya rasa kita bukan ingin mengamatin macan tutul, tetapi malah kita yang diamatin oleh macan tutul !! sela agus, salah seorang anggota tim. Namun rasa takut dan cemas berangsur-angsur pulih dengan semangat ingin tahu dari rekan-rekan anggota Tim KPM. Selama perjalanan tim menemukan jejak kaki dan cakaran Macan Tutul yang ditandai garis-garis pada sebatang pohon yang didokumentasikan oleh Reza (Tim Fotografi).

Di lain tempat pengamatan, pukul 20.35 WIB Tim KPM yaitu Tyas, Ayu dan Yandhi  yang berada pada SPB pada melakukan pengamatan serupa, akan tetapi pengamatan terfokus pada satwa nokturnal yaitu Kukang Bukang (Nycticebus coucang ). Satwa ini memiliki ciri–ciri pola warna umumnya bervariasi dari coklat abu-abu pucat hingga tengguli, dengan garis coklat dari bagian atas kepala sampai bagian tengah punggung atau pangkal ekor. Biasanya mempunyai lingkaran berwarna gelap mengelilingi kedua mata. Bulu halus dan lebat. Mata memancarkan cahaya obor kemerahan dengan jelas pada malam hari. Tim mengamati kukang yang berada pada pohon Afrika (Maesopsis eminii) sedang mengendap-endap mencari serangga dan memakan buah afrika. Kukang merupakan satwa yang unik, lucu dan fotogenik. Sehingga banyak diburu dan dijadikan hewan peliharaan. Populasinya di PPKAB cukup memprihatinkan, untuk itu diperlukan usaha-usaha pelestarian terhadap satwa ini.

Malam semakin larut, sayup-sayup suara angin mulai menyeruakan malam yang panjang. Jangkrik-jangkrik mulai unjuk gigi, diselingi suara-suara keributan satwa penghuni Bodogol. Suatu pertanda kekuasan Tuhan Yang Maha Esa  atas alam yang diberikan kepada kita dan untuk mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Nya.

Waktu menunjukkan 01.13 WIB, semua anggota tim terlelap tidur dengan kelelahannya setelah seharian penuh melakukan aktivitas pengamatan, semua pengalaman yang dialaminya terbawa ke alam tidur mereka, bersama angan satu tujuan untuk turut peduli terhadap mamalia. Entah  siapa lagi yang akan peduli, jika bukan dari kita sendiri yang memulainya..!

Salam Konservasi……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: