Kepadatan dan Tingkat Perjumpaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae Pocock, 1929) di Ipuh-Seblat Seksi Konservasi Wilayah II Bengkulu, Taman Nasional Kerinci Seblat. Pembimbing : DONES RINALDI dan LILIK BUDI PRASETYO.

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) memiliki peran penting dalam kelangsungan dan keseimbangan ekosistem hutan Sumatera. Hal tersebut menjadikan harimau sumatera sebagai salah satu key species dalam kegiatan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Seiring waktu, populasi satwa langka ini cenderung menurun yang diakibatkan oleh penyusutan mangsa, bencana alam, fragmentasi habitat, ilegal logging, konversi lahan, perburuan, umur dan kemampuan reproduksi. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan, tingkat perjumpaan dan pola aktivitas harimau sumatera.

Penelitian ini dilakukan di Ipuh-Seblat, SKW II Bengkulu TNKS mulai September 2006 hingga Januari 2007. Metode yang digunakan yaitu kamera trap, capture-recapture dan inventarisasi vegetasi. Alat yang digunakan adalah GPS, Total waktu aktif kamera yaitu 1551,32 hari. Luas efektif sampling area diperoleh dengan menggunakan ½ Mean Maximum Distance Move yaitu 359,3 km2. Capture-recapture menggunakan model Mh dengan asumsi populasi tertutup melalui program CAPTURE dan Adobe Photoshop CS8. Analisis vegetasi  menggunakan metode lingkaran sedangkan untuk analisis uji statistik menggunakan software SPSS 11.5.

Dari hasil CAPTURE diketahui bahwa terdapat 6 individu harimau (Mt+1), dengan rata-rata tangkap (P-hat) 0,2 sehingga kepadatan harimau (N)7±1,4 %(SE) dengan tingkat kepercayaan 95 % dari 7-13 individu atau 2-4 ekor (1,9-3,6) individu harimau/100 km². Hasil kamera trap menunjukkan tingkat perjumpaan (encounter rate/ER) harimau (n=36) sebesar 2,32 foto/100 hari sedangkan untuk satwa mangsa (n=423) yaitu 27,26 foto/100 hari. Hasil uji regresi logistik antara ER harimau dengan ER satwa mangsa menunjukkan hubungan yang tidak signifikan dengan nilai P > 0,10. Artinya keberadaan harimau tidak ditentukan oleh tingkat kehadiran satwa mangsa. Sedangkan hasil uji regresi logistik untuk mangsa per jenis diketahui bahwa kijang (P > 0,060) dan tapir (P > 0,055) memiliki hubungan positif dengan ER harimau. Pakan satwa mangsa (herbivor) lebih banyak dan bervariasi pada hutan perbukitan seperti kabau (Archidendron bubalinum, INP = 3,49%), durian hutan (Durio carinatus, INP = 4,94 %), dan berangan (Castanopsis rhamnifolia, INP = 6,98 %). Pada hutan dataran rendah pakan herbivor seperti mahang (Macaranga pruinosa, INP = 13,13 %) dan gondang (Mangiletia giauca, INP = 6,46 %). Sedangkan pada tipe hutan sub pegunungan pakan satwa mangsa yaitu kabau (Archidendron bubalinum, INP = 33,33 %) semakin berkurang. Pola aktivitas harimau (69 %) dan satwa mangsa (72 %) di Ipuh-Seblat  bersifat diurnal. Dari hasil overlay pola aktivitas harimau dan mangsa, terdapat kesamaan pola aktivitas harimau dan pola aktivitas kijang. Hasil ini menunjukkan bahwa harimau mempunyai pola aktivitas yang mendekati pola aktivitas mangsa utama yaitu kijang.

Kata Kunci : harimau, mangsa, populasi, kamera trap, encounter rate.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: