KRITERIA PERLINDUNGAN TERHADAP SATWALIAR

IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) merupakan suatu organisasi profesi tingkat dunia yang memantau keadaan populasi suatu jenis hidupan liar (flora dan fauna) dan banyak memberikan rekomendasi dalam hal penanganan terhadap suatu jenis hidupan liar yang hampir punah (IUCN, 2004). Kategori dan kriteria kelangkaan menurut IUCN sebagai berikut :
a. Punah (Extinct = EX). Diterapkan pada takson yang telah dipastikan tidak akan ditemukan lagi di habitatnya atau penangkaran karena individu yang terakhir diketahui telah mati.
b. Punah in-situ (Extinct in the wild = EW). Diterapkan pada takson yang diketahui hanya hidup dan dipelihara dengan penangkaran.
c. Kritis (Critically Endangered = CR). Diterapkan pada takson yang keberadaan populasinya menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam dalam waktu yang sangat dekat jika tidak ada usaha penyelamatan yang berarti untuk melindungi populasinya dan segera dimasukkan ke dalam kategori EW.
d. Genting (Endangered = EN). Diterapkan pada takson yang tidak termasuk dalam kategori CR namun mengalami resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dan dimasukkan ke dalam kategori EW jika dalam waktu dekat tindakan perlindungan yang cukup berarti terhadap populasinya tidak dilakukan.
e. Rawan (Vulnerable = VU). Diterapkan pada takson yang tidak termasuk dalam kategori CR atau EN namun mengalami resiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat sehingga dapat digolongkan dalam EW.
f. Data belum lengkap (Data Deficien = DD). Diterapkan pada takson yang kondisi biologinya mungkin telah diketahui, tetapi data persebaran dan populasinya belum lengkap sehingga analisis satatus kelangkaannya kurang memadai.
g. Belum dievaluasi (Not evaluated = NE). Diterapkan pada takson yang belum dievaluasi dengan menggunakan keriteria untuk kategori Kritis, Genting dan Rawan.
The Convention on Inernational Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) adalah suatu kesepakatan bersama tingkat internasional yang dicanangkan pada tahun 1973 dan mulai diaktifkan peraturan konvensinya pada tanggal 1 Juli 1975 dalam hal perdagangan internasional flora dan fauna (Suhartono & Mardiastuti 2003). Kategori dan kriteria kelangkaan menurut IUCN sebagai berikut :
a. Appendix I merupakan semua jenis kehidupan liar yang terancam (threatened) dari kepunahan (extinction) yang dapat atau kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya tindakan perdagangan inetrnasional.
b. Appendix II. Adalah (a) semua jenis kehidupan liar walau tidak dalam kondisi terancam dari kepunahan, tetapi dapat menjadi terancam, terkecuali perdagangan terhadap kehidupan liar tersebut dikenai suatu peraturan yang ketat dalam rangka menghindari pemanfaatan yang tidak sepadan dengan daya kemampuan hidupnya, (b) atau kehidupan liar lainnya yang perlu dikenai pengaturan dengan maksud bahwa perdagangan hidupan liar tersebut sesuai dengan paragraph (c) dapat dilakukan pengontrolan secara efektif.
c. Appendix III. Adalah semua kehidupan liar dimana semua pihak telah mengidentifikasinya sebagai bahan perdagangan yang dapat diterapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku di masing-masing wilayah, dengan maksud mencegah atau membatasi eksploitasi lewat kerjasama dengan semua pihak terkait dalam pengawasan perdagangan.
Untuk status konservasi harimau TNKS termasuk bioregion Asia Tenggara dikategorikan sebagai Tiger Conservation Unit (TCU) level I dengan nama TCU Kerinci – Seberida. WWF US & WCS, (1997) menjabarkan tingkatan – tingkatan status konservasi harimau pada suatu daerah sebagai berikut :
a. TCU level I : TCU yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk kelangsungan populasi harimau dalam jangka waktu yang panjang, karena mempunyai blok habitat yang luas, sesuai untuk harimau dan hewan mangsa serta tekanan dari perburuan liar berada pada tingkat rendah hingga sedang.
b. TCU level II : TCU yang mempunyai kemungkinan sedang untuk kelangsungan populasi harimau dalam jangka waktu yang panjang. Unit ini mempunyai blok habitat yang sedang dan luas serta tekanan perburuan dari tingkat sedang hingga tinggi.
c. TCU level III : TCU yang mempunyai kemungkinan rendah untuk kelangsungan populasi harimau pada jangka waktu yang panjang, karena habitat sedang, terisolasi, dan terfragmentasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: