EKOLOGI KAKATUA KECIL JAMBUL KUNING
(Cacatua sulphurea)
Kakatua jambul kuning berhabitat di hutan tropis Kepulauan Masalembo, Bali, Nusa Penida, Lombok, Moyo, Sumbawa, Komodo, Padar, Rinca, Flores, Pantar, Alor, Sumba, Semau, Timor, Tanahjampea, Bonerate, Kalaotoa dan Sulawesi. Tahun 1970 hingga tahun 1980-an burung tersebut masih tersebar luas dan mudah terlihat di seluruh Sulawesi dan Nusa Tenggara, jumlahnya ratusan ekor. Namun saat ini, populasinya diduga menurun drastis akibat eksploitasi yang berlebihan, untuk perdagangan serta hilangnya luas hutan akibat perubahan peruntukan (Anonim, 2000).
Burung ini berukuran sekitar 35 cm dengan warna putih, penampilannya mencolok, dan suka ribut. Cirinya terletak pada jambul kuning, panjang, dan tegak, serta pipi kuning. Burung ini termasuk suku nuri dan kakatua (suku Psittacidae). Burung kakatua pandai mengupas biji karena paruhnya besar dan kuat. Kelompok burung ini bertubuh padat gempal dan bersayap kuat. Sementara kepala, leher dan ekornya pendek. Kakatua disuka hobiis karena bulu jambul di kepala bisa mengembang dan menutup dengan apik (Anonim, 2003).
Di Kepulauan Komodo, Kakatua jambul kuning terdapat di Hutan Monsun (Monk, 2000). Burung ini menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi dan tepi hutan, juga hutan monsun (Nusa Tenggara), hutan yang tinggi bersemak, semak yang pohonnya jarang dan lahan budidaya yang pohonnya jarang. Dari permukaan laut sampai ketinggian 900 m (Sulawesi), 1520 m (Lombok), 1000 m (Sumbawa), 700 m (Flores), 950+ m (Sumba) dan 500+ m (Timor) (Coates, 2000).
Kakatua ini memiliki perilaku saat mencari makan maupun saat makan seperti menggantung pada ujung dahan dengan satu kaki, sedangkan kaki lainnya digunakan untuk memegang buah sambil paruhnya mematahkan tangkai buah. Kakatua cenderung memilih bentuk makanan yang mudah digenggam dengan kaki. Dengan paruh, makanan itu akan diiris dan dipotong hingga menjadi potongan-potongan kecil (Soemadi, 2003).
Pada masa lalu, burung ini sempat dianggap sebagai hama pertanian sehingga banyak yang dibunuh. Namun sekarang, ada upaya pelestarian dengan menetapkan sejumlah kawasan sebagai hutan lindung, seperti Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dan Caraente di Sulawesi, Taman Buru Pulau Moyo, Taman Nasional Komodo, serta Manupeu-Tanadaru, dan Laiwangi-Wanggameti di Nusa Tenggara. Karena populasinya yang makin kecil, burung ini status konservasinya adalah kritis.

I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia setelah Brasil. Walaupun luas total daratan hanya 1,3 % dari seluruh permukaan bumi, Indonesia memiliki 10 % tumbuhan berbunga (27.000 jenis), 12 % Mamalia (515 jenis), 16 % satwa Amphibia (270 jenis), dan 17 % Aves (1539 jenis) (KLH dan Kophalindo, 1994). Indonesia tidak hanya kaya dengan jenis flora dan fauna, tetapi juga memiliki banyak jenis endemik. Hal ini terjadi karena banyaknya pulau-pulau yang terisolasi satu sama lain untuk jangka waktu yang lama, sehingga terjadi evolusi jenis lokal yang khas untuk pulau-pulau tersebut. Tingginya endemisitas fauna Sulawesi disebabkan oleh posisi geografisnya yang terletak di kawasan Wallacea. Tingkat endemisitas jenis yang tinggi juga ditemukan Irian dan di kepulauan Mentawai (KLH dan Kophalindo, 1994).

B. Tujuan
Untuk mengetahui ekologi jenis satwaliar yang merupakan kekayaan alam Indonesia.

II. TAKSONOMI DAN KEKERABATAN
A. Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Aves
Order : Psittaciformes
Family : Psittacidae
Genus : Cacatua
Species : Cacatua sulphurea
Species Authority : J. F. Gmelin, 1788
Common Names : Yellow-crested Cockatoo
Lesser sulphur-crested Cockatoo

B. Kekerabatan
Menurut catatan Trubus, dari 326 spesies, 816 sub spesies dan 79 genera di dunia, hanya tiga yang bisa menjadi burung peliharaan para hobiis. Yakni kakatua (Cacatinae), nuri (Loriinae) dan betet (Psittacinae). Jumlah sub-spesies menjadi banyak setelah terjadi evolusi. Masing-masing dapat mempertahankan ciri khasnya karena isolasi geografis (Anonim, 2003).
Genus Cacatua terbagi dari beberapa jenis yang memiliki kekerabatan dengan Cacatua sulphurea. Tetapi hubungan kekerabatan Cacatua sulphurea lebih dekat dengan tiga jenis subspesies, yakni Cacatua parfula, Cacatua citrinocristata dan Cacatua abotti.

III. MORFOLOGI
Tiga jenis burung yang masuk dalam satu keluarga Psittacidae tergolong paling banyak penggemarnya. Tapi karena bentuk paruhnya hampir sama, kakatua, nuri dan betet jadi susah dibedakan bagi orang awam. Beberapa di antara jenis burung berparuh bengkok ini digolongkan sebagai satwa langka yang dilindungi. Ciri khas burung famili ini berleher pendek. Toh begitu tetap serasi meski kepalanya besar dan paruhnya bengkok. Karena bentuknya yang nyaris sama, sulit dibedakan jenis kelaminnya (Anonim, 2003)..
Pada umumnya bertungkai pendek dan kuat. Demikian pula dengan kakinya yang berjari empat dengan sepasang jari berlawanan. Kaki tersebut dipakai mencengkeram, memegang dan mengangkat makanan ke paruhnya. Bulu badan kakatua hanya satu warna, yakni putih, abu-abu atau hitam (Anonim, 2003).
Burung ini berukuran sekitar 35 cm dengan warna putih, penampilannya mencolok, dan suka ribut. Cirinya terletak pada jambul kuning, panjang, dan tegak, serta pipi kuning. Burung ini termasuk suku nuri dan kakatua (suku Psittacidae). Burung kakatua pandai mengupas biji karena paruhnya besar dan kuat. Kelompok burung ini bertubuh padat gempal dan bersayap kuat. Sementara kepala, leher dan ekornya pendek. Kakatua disuka hobiis karena bulu jambul di kepala bisa mengembang dan menutup dengan apik (Anonim, 2003).

IV. PENYEBARAN DAN STATUS
A. Penyebaran
Kakatua jambul kuning berhabitat di hutan tropis Kepulauan Masalembo, Bali, Nusa Penida, Lombok, Moyo, Sumbawa, Komodo, Padar, Rinca, Flores, Pantar, Alor, Sumba, Semau, Timor, Tanahjampea, Bonerate, Kalaotoa dan Sulawesi. Tahun 1970 hingga tahun 1980-an burung tersebut masih tersebar luas dan mudah terlihat di seluruh Sulawesi dan Nusa Tenggara, jumlahnya ratusan ekor. Namun saat ini, populasinya diduga menurun drastis akibat eksploitasi yang berlebihan, untuk perdagangan serta hilangnya luas hutan akibat perubahan peruntukan (Anonim, 2000).
Burung ini menghuni hutan, tepi hutan, belukar, dan daerah pertanian sampai pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut. Di Pulau Sumba, burung ini sangat bergantung pada hutan primer bertajuk rapat, tetapi di pulau lain dapat bertahan hidup di kawasan yang tumbuhan aslinya sudah habis ditebang seperti di Kepulauan Masalembo.
Burung ini termasuk suku nuri dan kakatua (suku Psittacidae) dan hanya terdapat di Sulawesi, Nusa Tenggara (Bali sampai Timor), dan pulau-pulau kecil sekitarnya, serta Kepulauan Masalembo.

B. Status
Meskipun telah dilindungi secara nasional melalui UU no 5 tahun 1990 dan PP No 8 tahun 1999, namun burung kakatua jambul kuning tidak sepenuhnya aman dari perburuan dan perdagangan. ProFauna Indonesia mencatat setidaknya 200 – 300 ekor burung ini diperdagangkan di berbagai pasar burung di Jawa dan Bali, juga diselundupkan ke Singapura melalui Batam sepanjang tahun 2002- 2003. Di pasaran dunia, burung ini banyak diklaim sebagai hasil penangkaran, padahal diduga keras merupakan hasil tangkapan dari alam. Pada tahun 2004 ProFauna mencatat puluhan ekor burung kakatua jambul kuning tangkapan dari alam berada di pasar burung Singapura di kawasan Serangoon Ave dan Pasar Catucjak di Bangkok. Oleh IUCN kakatua jambul kuning sudah digolongkan sebagai hewan yang terancam punah. Diperkirakan populasinya tersisa antara 3.200 sampai 7.000 ekor saja di alam liar. Sayangnya pemerintah Indonesia sendiri belum melindungi mereka dari aksi penyelundupan satwa liar dengan undang-undang yang jelas. Dunia internasional sebenarnya sudah berupaya melindungi burung ini dengan memasukkannya dalam Appendix II CITES pada tahun 1981. Artinya boleh diperdagangkan namun dalam kuota tertentu atau terbatas. Uni Eropa pada tanggal 14 Desember 1989 memberlakukan penghentian sementara import burung ini dan dibakukan melalui EC Reg.3626/82 dan EC Reg. 338/97. Amerika Serikat melalui US Wild Bird Conservation Act tahun 1992 juga telah memboikot seluruh perdagangan satwa liar yang masuk Appendix II CITES, termasuk burung ini. Pada tahun 1993 CITES menetapkan aves ini ke dalam Apendix II.
Usulan Indonesia untuk melindungi penuh Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) akhirnya membuahkan hasil. 166 negara anggota Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) yang sedang bersidang di Bangkok, Thailand, setuju secara aklamasi menaikan kakatua kecil jambul kuning ke daftar spesies Appendix I. Keputusan menerima usulan kakatua kecil jambul kuning masuk dalam Appendix I itu diambil pada tanggal 12 Oktober 2004, dua hari sebelum sidang berakhir tanggal 14 Oktober 2004. Dengan masuknya kakatua kecil jambul kuning ke Appendix I CITES maka perdagangan burung ini secara internasional diatur sangat ketat. Kakatua yang diperdagangkan harus hasil penangkaran, bukan tangkapan dari alam lagi. Perdagangan komersil satwa yang masuk appendix I juga dilarang. Pemindahan antar negara spesies Appendix I hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, kebun binatang dan taman burung. ProFauna Indonesia yang turut menghadiri sidang CITES XIII di Thailand menyambut baik dimasukannya kakatua kecil jambul kuning ke Appendix I. Ini untuk menjamin kakatua kecil jambul kuning mendapatkan status perlindungan penuh, artinya dilindungi ditingkat nasional dan internasional. Kakatua kecil jambul kuning telah dilindungi di Indonesia (PP Nomor 7 tahun 1999), namun perdagangannya ditingkat domestik dan internasional masih terjadi. Kakatua ini banyak diperdagangkan di Singapura lewat Batam. Dengan telah masuknya kakatua kecil jambul kuning ke Appendix I maka perdagangan internasional untuk kepentingan komersil itu dinyatakan terlarang.. ProFauna bersama Species Survival Network (SSN), sebuah koalisi internasional lebih 70 organisasi, telah berusaha keras untuk ikut mendukung usulan appendix I kakatua kecil jambul kuning. Sidang CITES di Bangkok masih akan berlangsung hingga 14 Oktober 2004 (Anonim, 2004)

V. HABITAT DAN PERILAKU
A. Tipe Habitat
Kakatua jambul kuning senang hidup di ketinggian antara nol sampai 1.200 meter di atas permukaan laut. Biasanya mereka mendiami hutan, perkebunan dan senang membuat sarang di pohon kelapa (Anonim, 2003).
Di Kepulauan Komodo, Kakatua jambul kuning terdapat di Hutan Monsun (Monk, 2000). Burung ini menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi dan tepi hutan, juga hutan monsun (Nusa Tenggara), hutan yang tinggi bersemak, semak yang pohonnya jarang dan lahan budidaya yang pohonnya jarang. Dari permukaan laut sampai ketinggian 900 m (Sulawesi), 1520 m (Lombok), 1000 m (Sumbawa), 700 m (Flores), 950+ m (Sumba) dan 500+ m (Timor) (Coates, 2000).
B. Habitat dan Perilaku Makan
Burung kakatua pandai mengupas biji karena paruhnya besar dan kuat. Kakatua jambul kuning termasuk pemakan segala, termasuk biji-bijian. Kakatua menyukai biji dan kecambah yang muncul diatas permukaan tanah. Burung pemakan biji mengkonsumsi biji sebanyak 10% dari berat tubuhnya. Sebelum makan, burung mengupas kulit biji dengan cara meremuk, memotong atau mengirisnya dengan bantuan sisi paruh yang tajam (Soemadi, 2003).
Kakatua ini memiliki perilaku saat mencari makan maupun saat makan seperti menggantung pada ujung dahan dengan satu kaki, sedangkan kaki lainnya digunakan untuk memegang buah sambil paruhnya mematahkan tangkai buah. Kakatua cenderung memilih bentuk makanan yang mudah digenggam dengan kaki. Dengan paruh, makanan itu akan diiris dan dipotong hingga menjadi potongan-potongan kecil (Soemadi, 2003).
Menurut Whitten (1987), kakatua kecil jambul kuning adalah pemakan buah.

C. Habitat dan Perilaku Berbiak
Tidak ada hal yang ditemukan yang menjelaskan perilaku berbiak.
D. Habitat dan Perilaku Sosial
Tidak ada hal yang ditemukan yang menjelaskan perilaku sosial.

E. Aktifitas / Perilaku Khas
Kakatua disuka hobiis karena bulu jambul di kepala bisa mengembang dan menutup dengan apik. Kakatua disuka justru karena burung ini amat cerewet dan suka menjerit. Kalau pandai melatih, kakatua termasuk burung yang ‘pandai bicara’, tapi tak selancar beo (Anonim, 2003).

VI. NILAI EKOLOGI, EKONOMI, DAN SOSIAL BUDAYA
A. Nilai Ekologi
Kakatua jambul kuning termasuk pemakan segala, termasuk biji-bijian dan sisa-sisa biji yang tidak termakan tersebar oleh burung ini, hal ini baik untuk regenerasi hutan.

B. Nilai Ekonomi
Spesies kakatua digemari sebagai burung peliharaan seperti kakatua barat (Cacatua sulphurea). Hal ini menunjukkan bahwa kakatua jambul kuning memiliki nilai jual dan nilai seni juga.

C. Nilai Sosial dan Budaya
Lagu berjudul”Burung Kakatua” memang tak lekang dimakan zaman. Dari zaman kita masih kecil sampai anak-anak kita kelak lagi itu bisa jadi terus dinyanyikan. Hal ini merupakan salah satu budaya yang berasal dari kecintaan terhadap burung ini.

VII. UPAYA PELESTARIAN
Penurunan populasi ini terutama karena penangkapan untuk perdagangan, baik untuk kebutuhan domestik maupun internasional. Kegiatan penebangan hutan dalam skala besar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian juga memperburuk penurunan populasi. Bahkan penggunaan pestisida dalam pertanian juga menjadi ancaman kepunahan.
Pada masa lalu, burung ini sempat dianggap sebagai hama pertanian sehingga banyak yang dibunuh. Namun sekarang, ada upaya pelestarian dengan menetapkan sejumlah kawasan sebagai hutan lindung, seperti Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dan Caraente di Sulawesi, Taman Buru Pulau Moyo, Taman Nasional Komodo, serta Manupeu-Tanadaru, dan Laiwangi-Wanggameti di Nusa Tenggara. Karena populasinya yang makin kecil, burung ini status konservasinya adalah kritis.

VIII. PENGEMBANGAN KEGIATAN PELESTARIAN
Populasinya diduga menurun drastis akibat eksploitasi yang berlebihan, untuk perdagangan serta hilangnya luas hutan akibat perubahan peruntukan. Untuk itu kakatua jambul kuning yang diperdagangkan adalah hasil dari penangkaran, sehingga kakatua jambul kuning dengan genetis asli tetap lestari.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2000. Kakaktua Jambul Kuning Diduga Berkurang. Diakses tanggal 8 Desember 2004. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/01/iptek/kaka10.htm
Anonim. 2003. FLORA dan FAUNA Kakatua Jambul Kuning, Endemik Indonesia yang Diselundupkan. Diakses tanggal 8 Desember 2004. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0404/28/ipt03.html
Anonim. 2003. Kakatua dan Nuri, Paling Cerewet. http://www.minggupagi.com/article.php?sid=7147
Anonim. Tak ada. Diakses tanggal 8 Desember 2004. http://www.itis.usda.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=554839.
Birdlife International. 2002. KENALI AKU: Kakatua-kecil Jambul Kuning (Cacatua Sulphurea). Birdlife International Indonesia Programme. Bogor. Diakses tanggal 8 Desember 2004. http://www.pili.or.id/news/2002/indonesia/incl5_4b.html#KENALI AKU: Kakatua-kecil Jambul Kuning (Cacatua Sulphurea)
Coates, B. J.; Bishop, K. D. 2000. Panduan Lapangan Burung-burung di Kawasan Wallacea, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Puslitbang Biologi-LIPI.
Monk, K. A.; Yance De Fretes.; Lilley, G. R. 2000. Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku. Prenhallindo. Jakarta
Profauna Indonesia. 2004. 166 NEGARA SETUJU PERLINDUNGAN PENUH KAKATUA JAMBUL KUNING. Diakses tanggal 8 Desember 2004. http://www.ksbk.or.id/Indo/cop-thailand.htm
Profauna Indonesia. 2004. PROFAUNA INDONESIA DI CITES THAILAND 2004, MENDUKUNG APENDIX I KAKATUA JAMBUL KUNING. Diakses tanggal 8 Desember 2004. http://www.ksbk.or.id/Indo/cop-thailand.htm
Soemadi, W.; Mutholib, A. 2003. Pakan Burung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Whitten, A. J.; Mustafa, M. & Henderson, J. B. 1987. Ekologi Sulawesi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: