EKOLOGI KERA HITAM SULAWESI (Macaca nigra)

EKOLOGI KERA HITAM SULAWESI
(Macaca nigra)

Genus Macaca merupakan salah satu dari primata yang mempunyai penyebaran sangat luas. Di dunia ada sekitar 20 jenis yang tersebar mulai dari gurun pasir di Afrika, hutan tropikm di Asia, hingga pegunungan salju di Jepang (supriatna, 2000).
Yaki termasuk diantara monyet Sulawesi terbesar. Berat badan Yaki betina kira-kira 7 kg, sementara Yaki jantan dapat mencapai 11kg. Moncong panjangnya tampak mencolok karena tulang pipi menonjol yang pada pejantan dewasa merupakan tempat dudukan gigi taring berbentuk bagus yang sering diperlihatkan sebagai pameran senjata. Bulu tubuhnya yang hitam mengkilap dihiasi warna kontras oleh bantalan kulit berwarna merah muda pada pantatnya. Tetapi bagian paling mencolok pada penampilannya adalah potongan rambut kepalanya. Makakus hitam berjambul seperti namanya , mempunyai jambul panjang dikepalanya (kinnaird, 1997)
Yaki hidup dari memakan tumbuhan, sebagian besar makanannya terdiri dari buah-buahan, bunga, serangga, dan telur. Yaki mendapatkan makanan mereka di manapunbaik di dalam hutan atau di lahan pertanian disekitar tempat Yaki hidup ( Sugardjito, 1989).
Yaki hanya ditemukan di Indonesia pada sebagian besar pulau Sulawesi. Pulau ini terletak di utara garis katulistiwa (Hamada, 1994). Daerah Biogeografi Yaki yaitu daerah oriental (kediaman asli). Kebanyakan Yaki ditemukan di dalam daerah yang dilindungi (kawasan lindung) di timur laut Sulawesi (Pulau Bacan) (Sugardjito, 1989).
Yaki dapat dijumpai pada hutan primer atau sekunder dataran rendah (pesisir) hingga dataran tinggi hingga 2000 mdpl. Mereka sering turun keperkebunan penduduk untuk mencari makan dan dapat merusak panen, sehingga sering dianggap sebagai hama tanaman. Yaki lebih menyukai daerah diantara hutan primer dan sekunder, karena cocok untuk tempat tidur dan mencari makan (Supriatna, 2000).
Yaki (Macaca nigra) dilindungi oleh pemerintah RI, dengan SK Menteri Pertanian 29 Januari 1970 No.421/Kpts/um/8/1970, SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No.301/Kpts-II/1991 dan Undang-undang No.5 1990. Dalam daftar yang dikeluarkan IUCN, yaki digolongkan sebagai satwa hampir punah “endangered” dan dicantumkan dalam Apendix II CITES (Supriatna, 2000).
Yaki dalam kehidupannya menganut sistem menurut garis matrilineal. Kekuasaan didalam kelompok ini terjadi karena Yaki menyadari Yaki betina lebih dominan daripada Yaki jantan (Quiatt dan Reynolds, 1993).

II. TAKSONOMI DAN KEKERABATAN
A. Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Mammalia
Orderse : Primates
Family : Cercopithecidae
Subfamily : Cercopithecinae
Genus : Macaca
Species : Macaca nigra
Species Authority : Desmarest, 1822
Common Names : Celebes Black Macaque
Crested Sulawesi Macaque
Black Crested Macaque
B. Kekerabatan
Genus Macaca merupakan salah satu dari primata yang mempunyai penyebaran sangat luas. Di dunia ada sekitar 20 jenis yang tersebar mulai dari gurun pasir di Afrika, hutan tropikm di Asia, hingga pegunungan salju di Jepang (supriatna, 2000).
Makaka Sulawesi mencakup beberapa spesies, semuanya berekor pendek; moncong panjang menjulur ke depan. Warna umumnya gelap. Macaca nigra berkerabat dengan jenis macaca lainnya yang paling dekat kekerabatannya adalah Macaca nigrescens, Macaca hecki, Macaca tonkeana, Macaca ochreata, Macaca brunnescens, Macaca togeanus, Macaca maura (supriatna, 2000).

III. MORFOLOGI
Yaki termasuk diantara monyet Sulawesi terbesar. Berat badan Yaki betina kira-kira 7 kg, sementara Yaki jantan dapat mencapai 11kg. Moncong panjangnya tampak mencolok karena tulang pipi menonjol yang pada pejantan dewasa merupakan tempat dudukan gigi taring berbentuk bagus yang sering diperlihatkan sebagai pameran senjata. Bulu tubuhnya yang hitam mengkilap dihiasi warna kontras oleh bantalan kulit berwarna merah muda pada pantatnya. Tetapi bagian paling mencolok pada penampilannya adalah potongan rambut kepalanya. Makakus hitam berjambul seperti namanya , mempunyai jambul panjang dikepalanya (kinnaird, 1997)
Yaki mempunyai ciri tubuh yang mudah dibedakan dengan jenis lainnya. Panjang tubuhnya 445 – 600 mm, panjang ekornya 20 mm, dan berat tubuh antara 7 sampai 15 kg. rambut yang menutupi seluruh tubuh berwarna hitam kelam, namun bagian belakang (punggung) dan paha berwarna lebih terang dibandingkan pada bagian lain. Wajahnya juga berwarna hitam dan tidak ditumbuhi rambut. Moncongnya jauh lebih menonjol dibandingkan dengan monyet Sulawesi lainnya. Kepala mempunyai jambul, yang merupakan cirri khas monyet Sulawesi. Warna tubuh betina dan monyet muda sedikit pucat, bila dibandingkan dengan jantan dewasa. Bantalan tunggignya berbentuk seperti “ginjal” dan berwarna kuning (Supriatna, 2000).
Yaki (monyet hitam Sulawesi) sebagian besar berwarna hitam kecuali pada sebagian kecil bahu sampai bagian pangkal paha, serta kombinasi rambut berwarna hitam dan putih pada bagian bahu dan lengan bagian atas. Yaki (monyet hitam Sulawesi) juga berbeda dengan kera lainnya pada rambut kepalamya yang seperti mahkota atau jambul. Beberapa corak phisik kunci: endotermis; simetri dari dua belah pihak (Hamada, 1994).

IV. PENYEBARAN DAN STATUS
A. Penyebaran
Mulai dari Cagar Alam Tangkoko Batuangus di bagian utara hingga ke Sungai Onggak Dumoga, yang berbatasan dengan penyebaran Macaca nigrescens. Di Sulawesi Utara sendiri dapat dijumpai di Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Manembo Nembo, Kotamubagu dan Modayak. Monyet ini telah diintroduksi di Pulau Bacan Maluku sehingga populasinya mencapai ratusan ribu ekor, lebih banyak dibandingkan dengan populasi aslinya (Supriatna, 2000).
Tangkoko adalah salah satu kubu pertahanan terakhir bagi populasi Yaki yang terus menyusut di Sulawesi Utara. Di sana terdapat kira-kira 3000 ekor yang tetap berada di dalam cagar alam. Populasi di Tangkoko telah mengalami penurunan 75% sejak tahun 1979 sebagai akibat perburuan dan perusakan habitat (Kinnaird, 1997).
Yaki hanya ditemukan di Indonesia pada sebagian besar pulau Sulawesi. Pulau ini terletak di utara garis katulistiwa (Hamada, 1994). Daerah Biogeografi Yaki yaitu daerah oriental (kediaman asli). Kebanyakan Yaki ditemukan di dalam daerah yang dilindungi (kawasan lindung) di timur laut Sulawesi (Pulau Bacan) (Sugardjito, 1989).
Whitten (1987) menyatakan bahwa hanya satu diantara empat jenis monyet yang tampaknya serupa di Sulawesi, yaitu Macaca nigra. Selain itu, rata-rata besar kelompok Macaca nigra sebesar 30 ekor per kelompok dan kerapatannya 300 ekor/km2 (di daerah Tangkoko-Batuangus). Menurut MacKinnon (1983) dalam Whitten (1987) menyatakan bahwa sisa habitat M. Nigra sekitar 4800 Ha, taksiran jumlah populasi sebesar 144.000 ekor, populasi yang dilindungi dalam Cagar Alam sebanyak 82.500 ekor dan total populasi yang berada di Cagar Alam sebesar 57%.

B. Status
Yaki (Macaca nigra) dilindungi oleh pemerintah RI, dengan SK Menteri Pertanian 29 Januari 1970 No.421/Kpts/um/8/1970, SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No.301/Kpts-II/1991 dan Undang-undang No.5 1990. Dalam daftar yang dikeluarkan IUCN, yaki digolongkan sebagai satwa hampir punah “endangered” dan dicantumkan dalam Apendix II CITES (Supriatna, 2000).
Yaki didaftarkan dalam Apendix II oleh CITES ( Wilson, 1993). Tempat kediaman Yaki secara konstan menyusut pada pulau Sulawesi karena terjadi peningkatan aktivitas manusia yang meliputi penanaman, pembukaan lahan hutan, dan penangkapan dan pembunuhan Yaki. Di pulau dimana Yaki ditemukan yaitu sebagian besar Pulau Bacan dimana jumlah aktivitas manusia belum mempengaruhi populasi Yaki secara langsung ( Hamada, 1994).

V. HABITAT DAN PERILAKU
A. Tipe Habitat
Yaki dapat dijumpai pada hutan primer atau sekunder dataran rendah (pesisir) hingga dataran tinggi hingga 2000 mdpl. Mereka sering turun keperkebunan penduduk untuk mencari makan dan dapat merusak panen, sehingga sering dianggap sebagai hama tanaman. Yaki lebih menyukai daerah diantara hutan primer dan sekunder, karena cocok untuk tempat tidur dan mencari makan (Supriatna, 2000).
Yaki dapat ditemukan di daerah tropis dan lembab dengan keanekaragaman hewan dan tumbuhan yang kaya ( Sugardjito, 1989).

B. Habitat dan Perilaku Makan
Seperti halnya jenis monyet lain, Yaki memakan berbagai bagian tumbuhan, mulai dari daun, pucuk daun, bunga, biji, buah-buahan, umbi, serta beberapa jenis serangga, moluska dan invertebrate kecil. Terdapat lebih dari 145 jenis buah yang dimakan Yaki. Di Cagar Alam Tangkoko Batuangus, sekelompok Yaki sering ditemukan di tepi laut untuk mencari moluska sebagai salahsatu sumber pakannya (Supriatna, 2000).
Kawanan Yaki menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berkeliaran mencari buah-buahan, yang merupakan 70% menu makanannya. Untuk memenuhi kebutuhan protein Yaki memakan serangga. Yaki menyimpan makanannya dalam kantung khusus dipipinya, selagi berjalan binatang ini kadang mengeluarkan simpanan makanan dari kantungnya lalu mengunyah-ngunyah dan menelan daging buah serta membuang bijinya. Dengan cara itu binatang itu menyebar biji buah-buahan di lantai hutan dan sangat berjasa dalam regenerasi hutan (Kinnaird, 1997).
Yaki hidup dari memakan tumbuhan, sebagian besar makanannya terdiri dari buah-buahan, bunga, serangga, dan telur. Yaki mendapatkan makanan mereka di manapunbaik di dalam hutan atau di lahan pertanian disekitar tempat Yaki hidup ( Sugardjito, 1989).

C. Habitat dan Perilaku Berbiak
Pantat membengkak merah pada Yaki betina menandakan binatang itu sedang birahi. Biasanya lalu terjadi hubungan intim dengan beberapa pejantan dalam kelompok. Masa hamilnya berlangsung ± 6 bulan. Yaki betina biasanya melahirkan anak dengan selang waktu 18 bulan dan kelahiran anak tidak mengenal musim sepanjang tahun (Kinnaird, 1997).

D. Habitat dan Perilaku Sosial
Perilaku sosial Yaki sangat terorganisir dan kompleks. Pejantan membentuk hirarki kekuasaan seperti “patuk-mematuk” pada ayam. Pejantan terbesar dan paling kuat memegang prioritas dalam mendapatkan makanan dan jodoh. Betina dewasa menanggung sebagian besar tugas membesarkan anak, sehingga pejantan-pejantan sempat membersihkan segala parasit dari bulu tubuh mereka dan membantu kaum betina memperkuat ikatan social dengan anggota lainnya. Kaum remaja melewatkan waktu dengan berjumpalitan dan berkejar-kejaran atau bergumul dengan sebayanya. Meringis lebar-lebar adalah senyuman mengajak bermain-main bukan menantang berkelahi (Kinnaird, 1997).
Di alam, Yaki mempunyai kelompok besar yaitu antara 20 – 70 ekor. Pada kelompok terdiri banyak jantan atau lebih sering disebut multimate/multifemale. Perbandingan antara jantan dan betina dalam kelompok 1:3,4. Masa kehamilan monyet hitam ini berkisar antara 170 – 190 hari, jarak kelahiran sekitar 24 bulan dan dapat bertahan hidup hingga 26 tahun (Supriatna, 2000).
Selain itu, Kinnaird (1997) menyatakan bahwa Yaki hidup dalam kelompok 30 – 100 ekor. Kawanan ini terpusat pada kaum betina yang berkuasa, dengan jumlah yang secara kasar empat kali (4 kali) jumlah pejantan.
Yaki seperti macaca lainnya, suka bepergian dan tinggal berkelompok. Yaki betina cenderung untuk menetap di rumah mereka (tetap dalam satu kelompok yang sama) selama hidup mereka sedangkan Yaki jantan berpindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Hal ini disebabkan karena Yaki betina adalah anggota permanen, kekuasaan di dalam suatu kelompok tertentu ditentukan oleh garis matrilines. Kekuasaan didalam kelompok ini terjadi karena Yaki menyadari Yaki betina lebih dominan daripada Yaki jantan ( Quiatt dan Reynolds, 1993).

E. Aktifitas / Perilaku Khas
Yaki hidup semiarboreal dan terrestrial, meskipun lebih dominan hidup di pohan (arboreal) dan sering menggunakan dahan pohon untuk melakukan melakukan penjelajahan. Umumnya pergerakan di tanah dan pada percabangan pohon, dilakukan secara ‘quadropedal’. Namun cara bergerak Yaki sangat bervariasi, biasa menggunakan kadua kakinya (bipedal), menggantung (brankiasi), ataupun memanjat. Daerah jelajahnya berkisar antara 114 -320 Ha, dan jelajah hariannya dapat mencapai 5 km. Yaki aktif pada siang hari (diurnal), dan sore hari menjelang tidur, mereka memilih tumbuhan yang rimbun. Tifur pada percabangan pohon dan secara berkelompok. (Supriatna, 2000).
(Supriatna, 2000) suara Macaca nigra berbeda dengan monyet Sulawesi lainnya. Suara terdengar seperti : ‘KoKoKoKo’. Seperti pada primata pada umumnya, suara berfunsi sebagai tanda bahaya atau penunjuk kekuatan kepada anggota kelompok lainnya.

VI. NILAI EKOLOGI, EKONOMI, DAN SOSIAL BUDAYA
A. Nilai Ekologi
Nilai Ekologi Yaki yaitu Yaki menyimpan makanannya dalam kantung khusus dipipinya, selagi berjalan binatang ini kadang mengeluarkan simpanan makanan dari kantungnya lalu mengunyah-ngunyah dan menelan daging buah serta membuang bijinya. Dengan cara itu binatang itu menyebar biji buah-buahan di lantai hutan dan sangat berjasa dalam regenerasi hutan (Kinnaird, 1997).

B. Nilai Ekonomi
Nilai Ekonomi Yaki bagi Manusia bila dilihat dari sisi negatif yaitu Yaki menghancurkan tanaman panenan petani lokal atau sekitar dengan merusak lahan untuk mendapatkan makanan (Hamada, 1994).Nilai Ekonomi bagi Manusia bila dilihat dari sisi positif yaitu Yaki sekarang ini digunakan untuk makanan dan mempunyai nilai jual di Indonesia. Kadang-Kadang Yaki terjerat dan diambil untuk dijadikan binatang kesayangan oleh masyarakat (Hamada, 1994). Bagaimanapun, manusia boleh memanfaatkannya dengan pemeliharaan populasi yang tetap utuh dibanding mengeksploitasi mereka.

C. Nilai Sosial dan Budaya
Yaki dalam kehidupannya menganut sistem menurut garis matrilineal. Kekuasaan didalam kelompok ini terjadi karena Yaki menyadari Yaki betina lebih dominan daripada Yaki jantan (Quiatt dan Reynolds, 1993).

VII. UPAYA PELESTARIAN
Yaki (Macaca nigra) dilindungi oleh pemerintah RI, dengan SK Menteri Pertanian 29 Januari 1970 No.421/Kpts/um/8/1970, SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No.301/Kpts-II/1991 dan Undang-undang No.5 1990 (Supriatna, 2000).
Dengan adanya Cagar Alam, hal ini merupakan satu hal yang bisa dijadikan sebagai upaya pelestarian, misalnya Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Manembo Nembo, Kotamubagu dan Modayak (Supriatna, 2000).

VIII. PENGEMBANGAN KEGIATAN PELESTARIAN
Pengembangan kegiatan pelestariannya dengan mengembalikan jumlah populasinya kembali normal dengan mengurangi kerusdakan habitat serta perbaikan habitat yang telah rusak tersebut agar Yaki bisa hidup kembali di tempat asalnya.
Selain itu usaha penangkaran juga bisa dilakukan, Yaki hasil penangkaran bisa dijual dan menghasilkan pemasukan bagi daerah Sulawesi khususnya, yang nantinya pemasukan tersebut digunakan untuk memperbaiki habitat yaki. Tetapi dengan syarat yang diperjualbelikan adalah yaki hasil penangkaran bukan yaki dengan genetik asli.

DAFTAR PUSTAKA
Diakses Tanggal 14 Des 2004. http://fwi.or.id/index.php?lang=ina&link=konservasi&f=bunaken.html
Hamada, Y.; Oi, T; Watanabe, T. 1994. Macaca nigra on Bacan Island, Indonesia: its morphology, distibutionk and present habitat. International Journal of Primalogy, 15 (3) : 487 – 493. 8-12-2004. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Macaca_nigra.html
Kinnaird, M. F. 1997. Sulawesi Utara : Sebuah Panduan Sejarah Alam. Percetakan Redi Utama. Jakarta.
Quiatt, D.; Reynolds, V. 1993. Primate Behaviour. University Press, Cambridge. Great Britain. 8-12-2004. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Macaca_nigra.html
Sugardjito, J.; Southwick, C.H.; Supriatna, J.; Kohlhaas, A.; Baker, S.; Erwin, J.; Froehlich, J.; Lerche, N. 1989. Population survey of macaques in northern Sulawesi. American Journal of Primatology, 18(4):285-301. Diakses Tanggal 8 Desember 2004. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Macaca_nigra.html
Supriatna, J.; Wahyono, E.H. 2000. Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Whitten, A. J.; Mustafa, M. & Henderson, J. B. 1987. Ekologi Sulawesi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wilson, D., ed.; Reeder, D., ed. 1993. Mammal Species of the World, Second edition. Smithsonian Institution Press. Washington and London. Diakses Tanggal 8 Desember 2004. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Macaca_nigra.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: