Tupai Akar (Tupaia glis)

a. Scandentia

Bangsa Scandentia dulunya dimasukkan ke dalam bangsa insectivora dan primates. Di dunia ini mempunyai anggota 5 marga dan 16 jenis. Dari sejumlah 30 itu, 3 marga dan 13 jenis dapat dijumpai di Indonesia dan malaysia Timur. Bangsa tupai hanya terdapt di Benua Asia dan hanya memiliki anggota suku tunggal yaitu tupaiidae. Di Jawa hanya ada 2 jenis tupai.

          Kelompok ini berpenampilan seperti  bajing. Berbeda dengan bajing, tupai tidak mempunyai kumis yang panjang. Moncongnya pun lebih panjang dan meruncing serta tidak mempunyai sepasang gigi seri yang besar berebntuk pahat.

Seperti bangsa bajing, bangsa tupai umumnya aktif mencari makan pada siang hari. Tupai umumnya pandai memanjat dan memiliki indera penglihatan, pendengaran dan penciuman yang baik. Makanannya terdiri dari serangga dan buah-buahan, namun kadang kala juga memakan bagian tumbuhan dan binatang lain. Salah satu jenisnya yaitu tupai akar (Tupaia glis) sudah dipakai sebagai hewan percobaan untuk biomedis.

1.    Tupai akar (Tupaia glis)

Klasifikasi Tupai akar adalah :

Kingdom        : Animalia

Filum            : Chordata

Subfilum        : Vertebrata

Klas              : Mammalia

Ordo             : Scandentia

Famili            :Tupaiidae

Genus          : Tupaia

Spesies         : Tupaia glis 

 Identifikasi. Rambut bagian atas berbelang-belang gelap dan pucat, terdapat bintik halus coklat atau coklat kemerahan (tengguli). Biasanya mempunyai suatu garis pucat pada kedua bahu. Jenis serupa : Tupai indah T. splendidula rambut ekornya sergam kemerahan, tidak ada palang; Tupai gunung T. montana kaki belakangnya lebih pendek dan terdapat pada daerah yang lebih tinggi. Ekologi dan habitat. Bersifat diurnal, paling sering terlihat aktif disekitar pohon-pohon tumbang dan dahan-dahan, pada vegetasi yang sedikit pohonnya atau dipermukaan tanah.  Makanan utamanya adalah serangga dan artropoda lainnya, dan buah-buahan manis atau mengandung minyak. Terdapat dihutan dan juga dibeberapa kebun dan perkebunan di dekat hutan.

         Menurut keterangan masyarakat satwa ini menyenangi daerah-daerah yang terbuka atau bekas areal logging. Dimana satwa ini sering kali berada pada batang pohon yang sudah rebah.

sumber :

Payne, J.,Francis C.M., Phillips, K. 1985. A Field Guide To The Mammals of Borneo. The Sabah Society dan WWF Malaysia. Petaling Jaya, Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: